Rabu, 25 Januari 2012

Korban Para Calo dan Mafia Anggaran

Terdakwa kasus suap pencairan dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah (DPPID) kawasan transmigrasi Dharnawati, menilai dirinya merupakan korban para calo dan mafia anggaran. Saya dihadapkan dengan mafia anggaran yang mengatasnamakan kementerian dan mengaku staf khusus. Saya yang orang desa ini tak kuasa menghadapi mereka," kata Dharnawati saat membacakan pledoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Rabu malam, 25 Januari 2012.

Dharnawati yang sepanjang pembacaan pledoi tak henti-hentinya menangis, mengaku apa yang dilakukannya selama ini adalah untuk memperjuangkan kemajuan tanah Papua tempatnya merintis usaha.

"Tapi saat saya ingin membangun Papua, saya dihadapkan dengan kelompok calo proyek yang barbar," ujarnya. Kelompok calo dan mafia anggaran yang dimaksud Dharnawati adalah Sindu Malik Pribadi dan Iskandar Prasojo alias Acos.

"Siapapun yang melihat akan tunduk dan membungkuk hormat. Mereka memaksa untuk membayar komitmen fee 10 persen dan mengancam akan mencoret daerah yang dialokasikan," terangnya.

Dalam pledoi setebal 19 halaman itu, Dharnawati kembali membantah telah memberikan uang tersebut kepada Menakertrans Muhaimin Iskandar, maupun Dirjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi, Djamaluddin Malik, melalui Nyoman Suisnaya dan Daong Irbarelawan.

"Saya tak pernah berurusan dengan Abdul Muhaimin Iskandar dan Djamaluddin malik, baik sebagai pribadi maupun sebegai menteri dan Dirjen," katanya.

Sejak ditangkap dan ditahan KPK pada 25 Agustus 2011 lalu, Dharnawati merasa mendapat perlakuan tak adil dari KPK. Ia pun mengaku untuk kehidupan sehari-hari masih mengandalkan belas kasihan orang lain.

"Rekening saya diblokir. Anak saya yang sakit karena kecelakaan dan tak bisa bangung terpaksa hanya dirawat di rumah karena tak ada biaya," katanya lagi.

Seperti diketahui, sebelumnya Dharnawati dituntut dengan hukuman empat tahun penjara dengan denda Rp250 juta subsidair enam bulan kurungan. Jaksa menganggap Dharnawati telah terbukti memberikan hadiah berupa uang dalam kardus durian senilai Rp1,5 miliar kepada Sesditjen P2KT, I Nyoman Suisnayaan dan Dadong Irbarelawan.

Juara bertahan Novak Djokovic

Juara bertahan Novak Djokovic akan menghadapi Andy Murray di babak semifinal turnamen grand slam Australia Terbuka.

Djokovic yang merupakan unggulan pertama maju ke semifinal setelah menyingkirkan petenis Spanyuol, David Ferrer di babak perempatfinal, Rabu (25/1). Petenis Serbia mengalahkan unggulan lima tersebut 6-4 7-6 6-1.

Ini merupakan ulangan partai final Australia Terbuka 2011 dengan Djokovic muncul sebagai pemenang. Murray lolos ke semifinal dnegan menyisihkan petenis Jepang, kei Nishikori di perempatfinal.

Di babak semiofinal lainnya, unggulan 2 Rafael Nadal akan menghadapi unggulan 3 asal Swiss Roger Federer.

Senin, 09 Januari 2012

Presiden Venezuela Hugo Chavez

Presiden Venezuela Hugo Chavez menegaskan, negaranya tak akan mengakui keputusan apa pun dari lembaga perselisihan investasi Bank Dunia dalam kasus ExxonMobil Corp. Perusahaan minyak Amerika Serikat itu membawa masalah ini ke lembaga arbitrase.

Exxon berharap memenangi kasus perselisihan investasi dengan Venezuela dan mendapatkan kompensasi sebesar 12 miliar dollar AS. Kasus ini diajukan ke Pusat Internasional Penyelesaian Perselisihan Investasi Bank Dunia (ICSID).

Dalam kasus ini, perseteruan antara Exxon dan Venezuela bermula ketika Chavez memerintahkan nasionalisasi proyek minyak Cerro Negro pada tahun 2007.

”Saya mengatakan kepada Anda semua, kita tidak akan mengakui keputusan apa pun dari ICSID,” ujar Chavez ketika berpidato di televisi, Minggu (8/1) waktu setempat.

Dia juga berulang kali menuduh perusahaan minyak raksasa dari AS itu menggunakan perjanjian yang tidak adil di masa lalu untuk merampok kekayaan salah satu negara eksportir minyak dari Amerika Selatan itu.

”Mereka sangat tidak bermoral. Bagaimana mungkin mereka dapat mencuri selama 50 tahun? Siapa yang berani melakukan kegilaan ini tanpa dasar yang jelas? Mereka menginginkan 12 miliar dollar AS. Dari mana teman-teman?” ujar Chavez berapi-api.

”Kita tidak akan tunduk dengan imperialisme. Mereka mengupayakan sesuatu yang tidak masuk akal: memaksa kita untuk membayarnya. Kita tidak akan membayar mereka sepeser pun. Siapa itu Bank Dunia?” tegas Chavez.

Sementara itu, juru bicara Exxon enggan berkomentar mengenai hal ini.

Beberapa analis menginterpretasikan pidato itu bahwa Venezuela akan menolak keputusan apa pun tentang belasan kasus lain yang dihadapinya di peradilan investasi Bank Dunia. Semua kasus itu berakar pada gelombang nasionalisasi dalam beberapa tahun terakhir.

Dari situs ICSID tampak ada 17 kasus antara Venezuela dan korporasi. Di antara kasus itu adalah kasus perselisihan investasi bernilai miliaran dollar AS yang diajukan oleh perusahaan minyak AS lain, ConocoPhillips. Selain itu juga kasus dengan produsen kaca Owens-Illinois Inc dan perusahaan pertambangan dari Toronto, Crystallex International Corp.

Akan tetapi, dalam dua pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Perminyakan dan Pertambangan Rafael Ramirez dan oleh perusahaan minyak negara PDVSA disebutkan bahwa pernyataan Chavez tersebut hanyalah berlaku untuk kasus Exxon saja.

Pekan lalu, panel arbitrase Kamar Dagang Internasional memutuskan memberikan kemenangan bagi Exxon senilai 908 juta dollar AS dalam kasus lain, yang juga terkait dengan nasionalisasi Cerro Negro.

Sabtu lalu, Rafael Ramirez mengatakan, dia tidak berharap ada keputusan tentang kasus Exxon dari Bank Dunia sebelum akhir tahun ini. Menurut Ramirez, masalah ini baru akan dibahas Februari mendatang.

Nilai miliaran

Perusahaan konsultan dari Caracas, Ecoanalitica, memperkirakan bahwa nasionalisasi Venezuela melibatkan aset swasta senilai 33,7 miliar dollar AS. Diperkirakan juga, ExxonMobil dan ConocoPhillips berjuang untuk mendapatkan klaim mereka sebesar 11,5 miliar dollar AS.

Venezuela telah mencapai kesepakatan setelah mengambil alih operasi perusahaan lain, seperti produsen semen Holcim dari Swiss dan produsen semen Meksiko Cemex SAB.

Michael Nolan, seorang pengacara di Washington yang mewakili perusahaan dalam perseteruan dengan Venezuela, sepakat jika Venezuela mundur tidak akan berdampak pada kasus yang saat ini sedang diproses. Dia mengatakan, perusahaan-perusahaan lain juga memasukkan kasus arbitrase baru.

”Sikap Presiden Chavez tidak akan menyelesaikan masalah hukum internasional yang serius,” ujar Nolan. Dia mengatakan, masalah ini dapat digunakan untuk melawan Venezuela melalui 20 traktat investasi yang ditandatangani Venezuela dengan negara lain.

Kasus arbitrase itu juga diamati dengan saksama oleh pelaku industri karena khawatir akan menjadi preseden di masa yang akan datang antara perusahaan dengan negara.

Selama bertahun-tahun, pemimpin sosialis Venezuela menuduh perusahaan minyak asing merampas cadangan minyak negara itu. Namun, pemerintah tetap menjaga hubungan baik dengan banyak perusahaan asing tersebut.
 
 
Copyright © 2013 Berita Kita All Rights Reserved.
Khanza Aulia Shafira Nugroho - Iconia PC tablet dengan Windows 8 By Kanghari Animal World